Tahapan Mpasi Menurut WHO

  • Whatsapp

Tahapan Mpasi Menurut WHO

Proses pemberian makan pada bayi itu bisa men jadi begitu menantang karena dapat menjadi pengalaman emosional, positif maupun negatif, bagi bayi dan juga kita. Oleh karena itu, tahapawal periode pemberian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI) menjadi sangat penting bagi bayi, karena hal ini berpengaruh langsung pada kesehatan dan tumbuh kembangnya. Bahkan, kebiasaan makan si kecil pada usia ini bisa berdampak jangka panjang dalam tumbuh kembang di tahap selanjutnya. Mengutip Developmental Stages in Infant and Toddler Feeding (dalam http://www.infantandtoddlerforum.org), ada empat aspek penting yang harus kita ketahui tentang makan pada bayi. Keempat aspek itu adalah:

Muat Lebih

1. Keterampilan terkait pemberian makan dan kemampuan makan.

2. Keterampilan spesifk dalam makan.

3. Preferensi rasa dan tekstur makanan.

4. Regulasi nafsu makan.

Keterampilan Terkait Pemberian Makan dan Kemampuan Makan

Pada aspek pertama, ada beberapa perubahan keterampilan motorik si kecil yang muncul seiring pertambahan usianya. Menginjak usia 4–6 bulan, bayi mulai mampu memegang dan mengemut pada setiap benda yang ada di sekitarnya, serta mengamati benda tersebut dengan saksama. Pada rentang usia tersebut pula, bayi mulai dapat duduk sendiri, dengan sedikit bantuan ataupun tidak. Pada usia 9 bulan, ia mulai dapat melakukan pincer grasp, yakni memegang benda kecil dengan jari telunjuk dan jempolnya. Usia 9–18 bulan, bayi mulai dapat mengucapkan kata pertamanya, bisa terkait dengan makan, misalnya “Mam!” untuk menunjukkan keinginan makannya. Di usia 12 bulan, bayi mulai dapat mengenali makanan dari wujud, bau, dan rasanya, plus ia mulai mengomunikasikan keinginannya akan suatu makanan. Ekspresi wajah bayi juga menjadi sinyal apakah suatu rasa dapat diterima si kecil atau tidak. Bayi akan mengerutkan wajahnya jika ia mendapati rasa asam atau pahit, misalnya.

Baca Juga  Apa itu Kecerdasan Intrapersonal dan Cirinya pada Anak

Keterampilan Spesifik dalam Makan

Aspek kedua merujuk pada keterampilan makan yang bersifat fsiologis, sehingga memungkinkan bayi menghadapi perubahan pola makannya, dari hanya minum ASI, ke makanan pendamping, hingga makanan keluarga. Usia 2 minggu–9 bulan, bayi dapat membuka mulutnya saat kita memasukkan sendok, serta ia bisa memindahkan isi sendok ke bagian belakang mulutnya. Keterampilan mengendalikan lidah juga muncul pada usia 2 bulan. Kemampuan ini terus berkembang hingga pada usia 6 bulan, ia mampu memindahkan makanan ke sisi kanan dan kiri mulutnya, terutama saat ia mulai dikenalkan dengan makanan pendamping. Ia pun mulai bisa mengunyah makanan lembut dan menyimpan makanan dalam mulutnya. Di usia 7–12 bulan, bayi sudah mulai pandai menghabiskan isi sendok dengan bibir atasnya. Seiring dengan pertumbuhan gigi pertamanya di usia 6–12 bulan, bayi mulai dapat menggigit makanan yang lebih keras, sehingga pada usia 12 bulan ke atas ia pun lebih siap menikmati berbagai macam tekstur makanan yang diperkenalkan padanya. Bayi mulai dapat makan sendiri dengan menggenggam makanannya pada usia 8 bulan. Ia mulai dapat mengarahkan makanan ke mulutnya, meskipun keterampilan ini sudah muncul sejak usia 4–11 bulan. Keterampilan menyuapi dirinya sendiri dengan sendok tanpa tumpah mulai tampak pada usia 8–24 bulan. Kebanyakan bayi dapat menyuapi dirinya sendiri dengan baik pada usia 15–18 bulan. Pada usia 8 bulan pula bayi mulai dapat minum sendiri dari gelas minum tertutup dengan ujung pipih (sippy cup). Beberapa bayi dapat minum dari gelas terbuka pada usia 19 bulan.

Preferensi Rasa dan Tekstur Makanan

Aspek ketiga adalah preferensi rasa dan tekstur makanan. Boleh jadi kadang kita berpikir, “Ah bayi mana ngerti rasa,” sehingga kita cenderung memberikan saja setiap jenis makanan tanpa memperhatikan dengan seksama reaksi si kecil. Namun, bayi juga mengembangkan preferensi tersendiri terhadap rasa, tekstur, dan makanan yang kita berikan. Hal ini akan menjadi panduan bagi kita pula, jenis makanan apa yang disukai bayi. Plus, setiap bayi punya preferensi yang berbeda, bahkan bagi bayi kembar sekalipun. Bayi terlahir dengan preferensi rasa manis, dan rasa lainnya ia pelajari lewat beragam pengalaman. Makanan yang dimakan ibu akan berpengaruh pada rasa ASI yang diminum bayi. Namun, preferensi rasa bayi berkembang pesat seiring ia mulai menikmati makanan pendamping pertamanya. Menginjak usia 12–14 bulan, bayi mulai menunjukkan penolakan pada beberapa makanan yang tidak ia suka. Oleh karena itu, sangat disarankan untuk memperkenalkan berbagai macam variasi rasa saat masa MPASI, terutama pada usia < 12 bulan. Perkembangan tekstur juga harus naik secara bertahap. Usia 6 bulan tekstur makanan yang sedikit kental harus diperkenalkan kepada bayi. Perlahan, teksturnya dinaikkan sesuai perkembangan kemampuan makan bayi. Saat ia sudah bisa mengunyah, tekstur makanan yang lebih padat dapat diberikan padanya.

Baca Juga  Cara Melatih Kecerdasan Intrapersonal pada Anak

Regulasi Nafsu Makan

Aspek keempat adalah regulasi nafsu makan. Di sini kita harus bisa mengenali kapan anak lapar dan kenyang. Pada usia 4–6 bulan, bayi mulai membuka mulutnya saat kita mendekatkan sendok ke mulutnya atau mendekatkan kepalanya pada sendok dengan mulut terbuka. Ia juga mulai meraih makanan yang ia lihat di dekatnya. Semakin bertambah usianya, bayi bisa menunjukkan ekspresi bersemangatnya saat melihat makanan sedang disiapkan dan coba mengambil makanan yang sedang dimakan kita. Sementara, bayi menunjukkan ia sudah kenyang dengan memalingkan kepala dari sendok, menutup mulutnya, mengeluarkan makanan, mengemut makanan, menunjukkan ekspresi jijik, menutup mulut dengan tangan, dan menangis. Pada bayi yang lebih besar, ia mungkin saja melempar makanan dan berkata tidak pada makanan tersebut

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *