Penyebab dan Cara Mengatasi Anak Susah Makan

  • Whatsapp

Penyebab dan Cara Mengatasi Anak Susah Makan

Pada tahun pertama usia anak, pertumbuhannya berlangsung sangat pesat. Memasuki tahun kedua, laju pertumbuhan si kecil tidak lagi sama seperti tahun sebelumnya. Pada saat ini, ia sedang aktif-aktifnya mempelajari berbagai keterampilan baru, seperti: berjalan, berlari, berbicara, memanjat, dan lain-lain. Selain sudah bisa memegang makanan sendiri dan memasukkannya ke dalam mulut, si kecil juga mulai mengembangkan kemampuan memilih, termasuk dalam hal makanan. Ia mulai “bereksperimen” dalam memilih jenis makanan yang ia suka dan tidak suka, berapa banyak makanan yang ingin ia makan, serta kapan ia mau makan.

Muat Lebih

Kondisi ini kadang diartikan oleh orangtua sebagai “anak susah makan”. Padahal, sebenarnya normal saja bila porsi makan balita setiap hari berubah-ubah; kadang sedikit, kadang banyak, dan kadang tidak mau makan. Menurut para ahli, umumnya keadaan susah makan ini sifatnya hanya sementara, sehingga orangtua tidak perlu terlalu khawatir. Namun, melihat buah hatinya pilih-pilih makanan atau menutup mulut rapat-rapat saat disuapi makanan alias GTM (gerakan tutup mulut), orangtua tentu menjadi was-was. Kekhawatiran terbesar biasanya adalah takut si kecil akan kekurangan gizi dan pertumbuhannya terhambat. Duh, bagaimana, nih, mengatasinya? Nah, ini ada pengalaman sejumlah mama saat menghadapi buah hatinya yang susah makan. Yuk, simak cerita dan trik mereka! Boleh disontek, Ma.

SUSAH MAKAN LANTARAN ALERGI

Susi bercerita, porsi makan putri pertamanya, Kiandra Azkadina Astriawan (3,4), memang tidak terlalu banyak sejak masuk periode MPASI. Salah satu penyebabnya adalah Kiandra alergi terhadap sejumlah jenis makanan. “Kiandra alergi terhadap kacang-kacangan, makanan olahan susu, cokelat, telur, dan makanan laut. Akibatnya, saya jadi kesulitan sendiri dalam memadupadankan makanan yang bisa dimakan oleh Kiandra,” ujar mama dua anak ini. Kiandra mulai bermasalah dengan makanan saat berusia 10 bulan. Ia hanya mau makan makanan dengan lauk dan sayur tertentu. Selain itu, ia juga sering kali mengemut makanan di mulutnya cukup lama. “Saya sempat juga melalui fase menyuapi makanan sambil jalanjalan karena Kiandra hanya mau makan kalau caranya begitu,” kata Susi. Imbas dari problem susah makan tersebut, berat badan Kiandra pun susah naik.

Baca Juga  Menu MP Asi Pertama yang Sesuai Standard WHO

“Setiap kali kontrol ke dokter anak, saya ‘diomelin’ melulu soal berat badan Kiandra yang rendah, he he he ….” kenang Susi yang juga pernah berkonsultasi dengan dokter spesialis gizi mengenai kondisi Kiandra. Dokter memberi panduan menu makanan serta takaran karbohidrat, lemak, protein, dan lain-lain yang pas untuk anak seusia Kiandra. Untuk mengecek tumbuh kembang Kiandra, Susi pun menemui dokter spesialis anak konsultan tumbuh kembang anak. Syukurlah, hasilnya ternyata baik dan dokter tersebut hanya memberikan vitamin untuk menambah nafsu makan Kiandra. Hingga saat ini, menurut Susi, Kiandra masih suka pilih-pilih makanan. “Tetapi nafsu makannya sudah cukup bagus,” ujarnya. Susi pun masih giat mencari cara untuk menaikkan berat badan putrinya. Ia rajin mengumpulkan buku-buku resep MPASI dari nakita, ngobrol dengan ibu-ibu yang mempunyai masalah serupa, serta berkreasi membuat aneka camilan sehat. *

GARA-GARA DOYAN JAJANAN MANIS

Mama dari Zahwa Aqila Salsabila Raharja (4,8) ini bercerita bahwa putrinya itu senang sekali makan permen, cokelat, dan es krim sejak gigi pertamanya tumbuh. Akibatnya, setelah giginya lengkap, Zahwa, panggilannya, mulai mengalami sakit gigi dan gigi berlubang. “Saya sampai berkali­kali membawa Zahwa ke dokter gigi untuk memeriksakan kondisi giginya. Saya sempat minta dokter untuk mencabut gigi Zahwa yang berlubang, tetapi dokter menolak karena Zahwa masih kecil. Dokter menyarankan untuk menggosok lebih kencang gigi yang berlubang dan mengurangi konsumsi makanan yang merusak gigi,” papar Atin, panggilan akrabnya. Ternyata, kegemaran Zahwa terhadap jajanan manis bukan hanya berdampak pada gigi­geliginya, melainkan juga selera makanannya: ia jadi susah makan.

Atin bercerita, Zahwa membutuhkan waktu yang sangat lama—sekitar satu jam—untuk menghabiskan makanannya. Ia pun hanya mau makan bila digendong, sambil bermain, menonton televisi atau gadget, atau makan bareng dengan teman­temannya. Lantas, apa yang dilakukan ibu dua anak ini? “Saya memanfaatkan kesukaan Zahwa terhadap es krim atau jajanan lain untuk mendorongnya agar mau makan. Kalau dia minta jajan, saya bilang boleh asalkan makan dulu. Atau, kadang dimakan barengan. Jadi, misalnya, makan nasi diselingi es krim, begitu terus sampai nasinya habis,” papar Atin. Saat ini, Zahwa sudah bersekolah di TK dan menurut Atin, nafsu makannya cukup baik. “Sepertinya karena dia sudah memahami apa itu lapar. Setiap pagi Zahwa sarapan, lalu di sekolah juga dikasih makan dan selalu dihabiskan. Kadang saya juga mengajaknya untuk ikut membantu saya masak atau menanyakan dia ingin dibikinkan makanan apa,” terang Atin mengakhiri

Baca Juga  Cara Mengatasi Anak Sulit Makan GTM

GTM GARA-GARA MAU PUNYA ADIK

Mama tiga anak ini masih ingat betul ketika putri pertamanya, Laudya Faiha Althafunnisa (8,4), mendadak susah makan. “Faiha susah makan sewaktu berusia 2 tahun. Waktu itu dia mau punya adik dan jadi super duper rewel, cari perhatian, dan makannya lebih susah. Saya pernah menyuapi Faiha selama 2 jam, tetapi makanan yang berhasil dimakan hanya tiga suap kecil saja,” kenang Lidya. Ketika putrinya itu mendadak GTM, hal pertama yang dilakukan Lidya adalah memastikan kondisi fisik Faiha dalam keadaan sehat. Ia mengecek rongga mulutnya untuk melihat apakah ada sariawan atau sakit gigi. Ia juga beberapa kali menanyakan kepada Faiha, apakah ada yang sakit di mulutnya dan putrinya selalu menjawab tidak ada. Lidya sempat khawatir Faiha akan kekurangan gizi karena GTM. “Ada hari dimana Faiha hanya mau makan buah pisang dan beberapa suap nasi. Makanan lain yang bisa masuk hanya puding dan roti atau biskuit, tapi jumlahnya pun sangat sedikit,” papar Lidya. Ia kemudian berusaha menambah asupan gizi putrinya dengan menawarkan susu UHT, tetapi tidak terlalu berhasil karena Faiha tidak suka susu. Lidya lalu mengganti susu dengan yoghurt, namun hasilnya pun nyaris sama. “Yang masuk ke tubuhnya sedikiiit sekali,” ujarnya.

Setelah berkonsultasi dengan dokter anak langganannya, Lidya dianjurkan untuk memberikan vitamin kepada Faiha. Dengan seizin dokter pula, ia memberikan madu Syamil pada Faiha untuk merangsang nafsu makannya. Selain itu, Lidya juga rajin mencari inspirasi menu makanan anak dari buku resep karya Wied Harry Apriadji. Setiap hari ia berusaha menciptakan menu makanan yang berbeda­beda untuk Faiha. Tak lama, upaya ini pun membuahkan hasil. Setelah berhari­hari GTM dan pilih­pilih makanan, Faiha kembali makan dengan lahap. Masalah susah makan juga terjadi pada anak kedua Lidya, Dahas Nizom Sirojulhaq (5,12). Sewaktu berusia 18 bulan, Dahas GTM selama sekitar 2 minggu. Setiap ditawari makan, ia hanya geleng­geleng dan menutup mulutnya rapat­rapat. “Tetapi saya tetap menyiapkan berbagai macam makanan berat yang berbeda­beda setiap harinya. Dahas waktu itu enggak mau makan nasi, maunya cuma roti atau bakmi, itu pun enggak banyak,” kata Lidya. Untuk “menambal” kekurangan gizi Dahas, Lidya membuat aneka camilan seperti bubur sumsum keju, bubur mutiara susu, ubi yang dimasak dengan aneka cara, cake singkong, dan lain­lain. Dahas yang waktu itu masih minum ASI juga diberi madu setiap pagi untuk meningkatkan nafsu makannya

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *