Makanan Ibu Hamil Muda agar Anak Cerdas

  • Whatsapp

Makanan Ibu Hamil Muda agar Anak Cerdas

Siapa sangka, makanan yang kita konsumsi selama hamil itu tak hanya dapat menjadi asupan untuk tumbuh kembang janin di rahim, tetapi juga bisa membentuk pilihan atau selera makan anak kelak. Hal ini terbukti lewat penelitian yang dilakukan oleh Dr. Julie Mennela di Monell Chemical Senses Center, Amerika Serikat. Mennela dan timnya melakukan riset pada sejumlah mamil (mama hamil) yang dibagi ke dalam tiga grup untuk meminum jus wortel setiap hari. Grup pertama mengonsumsi jus wortel selama hamil, grup kedua saat menyusui, dan ketiga para mamil yang benarbenar menghindari jus wortel. Lalu, ketika anak mereka mulai mengonsumsi makanan padat, peneliti memberikan anak­anak tersebut sereal yang dibuat dari jus wortel dan merekam respons mereka saat mengonsumsinya.

Muat Lebih

Penelitian ini dipublikasikan di Journal Pediatrics (2011). Hasilnya, para anak dari mama yang mengonsumsi jus wortel selama hamil dan mama yang meminumnya selama menyusui, terbukti menyukai sereal dengan rasa wortel. Mennelajuga menemukan, anak­anak tersebut lebih sedikit menampilkan ekpresi wajah yang negatif (tanda tak suka) saat memakan sereal wortel itu dibanding anakanak yang ibunya menghindari jus wortel ketika hamil dan menyusui. Kok, bisa, ya? Begini penjelasannya, Ma. Di usia kehamilan 21 minggu, janin dapat merasakan makanan atau minuman yang dikonsumsi oleh mamanya. Di dalam rahim, janin dapat meneguk beberapa ons cairan ketuban setiap hari. Cairan ketuban ini bisa mengandung rasa dari makanan dan minuman yang dimakan mamil dalam beberapa jam terakhir.

Menurut Mennela, rasa dari wortel, bawang putih, adas manis/kembang pekak, dan vanila adalah beberapa rasa yang terbukti dapat tersebar di cairan ketuban atau ASI. Mennela menambahkan, bahkan tak ada satu pun rasa yang tak tersebar di cairan ketuban. Jadi, semua rasa sebenarnya dapat dirasakan oleh janin di dalam kandungan, Ma. Studi lain juga menemukan kaitan antara pola makan ibu selama hamil dengan kebiasaan makan anaknya di kemudian hari. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Royal Veterinary College di London (2007), mamil yang cenderung makan hanya makanan yang disukainya dan berpendapat bahwa saat hamil perlu makan untuk dua orang/porsi dapat menyebabkan preferensi makanan yang tidak sehat pada anaknya kelak. Karena tak mungkin terusmenerus memberikan junk food pada mamil, penelitian tersebut melakukannya pada tikus (yang memiliki implikasi bagi manusia). Ketika tikus hamil mengonsumsi makanan olahan junk food, seperti donat atau permen, keturunan mereka juga akan memilih junk food dan cenderung makan berlebihan.

Baca Juga  Bagaimana Cara Mengetahui Anak Berbakat Olahraga

Dr. Stephanie Bayol, penulis utama studi ini, percaya, jika perempuan hamil makan junk food, mereka dapat mewariskan keinginan untuk makanan seperti itu pada anak­anak mereka. Selain itu, anak­anak dari mama yang gemar mengonsumsi junk food saat hamil juga berisiko lebih tinggi mengalami obesitas di kemudian hari dibanding anakanak dari mama yang menghindari junk food semasa hamil.

MENURUN PADA ANAK

Astari Priandhani Putri (32) bercerita, dirinya tak suka sayur sebelum mengandung anak pertamanya, Jupiter Satria Putra (11). Namun demi menjaga asupan makanan untuk buah hatinya, ia mulai membiasakan mengonsumsi makanan sehat dari hamil anak pertama hingga mengandung jagoan keduanya, Fathir Murfd Attallah (4). “Semasa hamil dan menyusui, saya biasa mengonsumsi ikan, jus buah, dan sayur, terutama sayuran berkuah. Nah, itu pula yang disukai oleh kedua anak saya setelah mereka mulai makan. Mereka doyan sekali makan sayuran berwarna hijau, seperti bayam, kangkung, dan daun singkong. Buah­buahan lokal juga mereka suka, misalnya, pisang, pepaya, dan mangga. Senangnya lagi, mereka bukan anak yang pemilih dalam urusan makanan. Kayaknya semua makanan, mereka makan, deh, he he he,” cerita Putri, sapaan akrabnya. Serupa dengan kedua jagoan Putri, putra sulung Anindita Triandari (30) juga bukan sosok pemilih dalam hal makan atau dalam bahasa Inggris disebut picky eater. Kebiasaan makan sehat diakui Anindita dijalaninya semasa kehamilan karena mengikuti saran dari dokter obginnya. Sang dokter menjelaskan berbagai manfaat kebiasaan makan sehat pada anak, dari mendukung tumbuh kembang anak selama di rahim hingga di periode emas 0—5 tahun dan juga dapat ”mewariskan” kebiasaan makan sehat pada anak di kemudian hari.

Baca Juga  Apa itu Kecerdasan Intrapersonal dan Cirinya pada Anak

Terbukti, putra sulungnya, Pijar Ranjana Nebukadnezar (2,9), gemar mengonsumsi makanan dan minuman sehat yang Anindita konsumsi selama hamil. “Semua makanan dan minuman sehat yang saya konsumsi selama hamil, digemari oleh Pijar. Karena itu, setiap hari Pijar selalu makan sayur dan buah. Malah pernah suatu waktu, saking doyannya wortel, dia terus­menerus minta makan wortel sampai kulitnya berwarna kekuningan. Ternyata, tubuhnya terlalu banyak beta karoten yang terdapat di wortel. Pokoknya, mudah sekali mengatur pola makan sehat pada Pijar. Selain doyan makan sayur, Pijar juga mudah menghindari makanan tinggi gula dan pengawet. Efeknya, selain terbiasa makan sehat, daya tahan tubuh Pijar juga jadi kuat, enggak mudah sakit, kalaupun sakit, sembuhnya cepat,” papar Anindita. Kebiasaan makan baik yang dilakukan oleh kedua mama hebat ini juga tercermin pada kebiasaan mereka untuk selalu mempertimbangkan makanan/ minuman tertentu sebelum mengonsumsinya dengan memikirkan beberapa pertanyaan. Misal, ”Apa makanan/minuman ini ada efek sampingnya pada anak?”, “Apa kandungannya bagus untuk tumbuh kembang anak?”, dan semacamnya.

Kalau memang aman dan baik untuk anak, barulah mereka konsumsi, Ma. Wah, hebat, ya! Bahkan, Ma, menurut cerita Putri, anak bungsunya kurang menyukai junk food hingga saat ini. “Fathir lebih memilih makanan rumahan ketimbang makanan seperti burger, pizza, dan sejenisnya, yang umumnya digemari anak­anak seusianya,” ujar Putri. Pasalnya, saat mengandung Fathir, Putri agak “anti” dengan junk food dan lebih senang makan masakan sendiri dibanding membeli makanan di restoran.

POLA ASUH DAN LINGKUNGAN JUGA BERPENGARUH

Menurut dokter spesialis obgin, Bima Suryantara, kedua penelitian di atas saling berkaitan satu sama lain. “Saya setuju dengan apa yang diungkapkan oleh penelitian tersebut, meskipun tidak berkaitan secara langsung. Sebab, makanan yang dikonsumsi oleh ibu hamil memang berdampak pada kondisi janin di dalam kandungan, tetapi tidak langsung membuat bayi lebih menyukai makanan­makanan tertentu,” jelasnya. Pasalnya, menurut Bima, adanya pola asuh bayi dan lingkungan yang juga memiliki pengaruh terhadap kegemaran bayi pada suatu jenis makanan/ minuman tertentu. Nah, ini kabar baik untuk para mama yang semasa hamil/menyusui kurang mengonsumsi makanan sehat, seperti sayur­mayur dan buah.

Baca Juga  Penyebab dan Cara Mengatasi Anak Susah Makan

Meski tak menjalani kebiasaan makan sehat saat hamil/menyusui, Mama masih punya waktu untuk mengajarkan kebiasaan makan yang sehat pada buah hati. Dokter anak Stephen R. Cook, MD, MPH, dari Golisano Children’s Hospital di University of Rochester, New York, Amerika Serikat, mengatakan, semakin sering balita mencoba makanan, semakin ia akan menerimanya/ menyukainya. “Kebanyakan anak tidak menyukai makanan baru, tapi setelah 12—15 kali mencoba, mereka akan mulai menerima makanan tersebut. Jadi, tawarkan sesuatu sebanyak 15 kali sebelum Anda memutuskan bahwa anak Anda tidak menyukainya,” jelas Cook seperti dilansir webmd.com. Cara lainnya dengan menyajikan 2—3 pilihan makanan berbeda pada setiap waktu makan. Ini dapat membantu orangtua untuk tak memaksa anak agar mau mengonsumsi makanan sehat, juga sekaligus menghindari orangtua memberi pujian berlebih pada anak ketika ia mau mencoba makanan baru yang sehat tentunya.

Menurut Cook, orangtua seharusnya memberikan pilihan makanan sehat pada anak, dan membiarkan anak memutuskan akan memilih makanan yang mana. “Seharusnya begitu, bukan malah mencari gampangnya dengan hanya memberikan nugget serta jus kemasan pada anak dan menganggap itulah makanan yang akan dimakan oleh anak,” tambah Cook. Tentu, butuh trik lainnya untuk menciptakan suasana makan yang menyenangkan pada anak agar ia mau terbiasa makan sehat, ya, Ma. Yuk, simak artikel berikutnya!

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *