Cara Mengatasi Anak yang Banyak Maunya

  • Whatsapp

Cara Mengatasi Anak yang Banyak Maunya

Tia mengajak buah hatinya, Riko, pergi ke mal. Maksudnya sekadar cuci mata. Namun pergi bersama Riko ternyata memiliki “seni ”tersendiri. Setiap melewati suatu toko, ada saja permintaannya. “Mobil…mobil… itu…itu!” teriak Riko ketika di depan toko mainan. “Kuda… kuda…!” saat di depan pusat permainan. Kala lewat pusat jajanan, “Es klim…es kliiiim!” Waduh!

Muat Lebih

PERKEMBANGAN OKE

Tak perlu kesal, tak perlu sebal. Kalau si batita ingin ini, ingin itu tandanya ia sedang mengembangkan berbagai keterampilan. Saat ia berkata, “Mau…mau…!,” berarti kemampuan berpikirnya tengah terasah. Sewaktu si kecil memilih satu barang di antara sekian banyak lainnya berarti ia sedang mempertajam keahliannya dalam memilih. Ini belum menyebut latihan berbahasa kala ia berseru, “Mama es klim!”, kemampuan motorik sewaktu berjalan mendekati sesuatu yang menarik perhatian, dan keterampilan berinteraksi saat anak menyatakan keinginannya. Jadi, sebenarnya semakin baik perkembangan kognitif anak, semakin ia banyak maunya. Tinggal Mama Papa yang perlu pandai-pandai memberi pengertian, bahwa tidak semua keinginannya itu bisa dipenuhi. Ajari anak untuk memilah mana yang layak dimiliki, mana yang tidak. Bukalah ruang diskusi dengannya. Soal apakah si batita akan memahami penjelasan kita atau tidak, tak perlu terlalu dikhawatirkan. Selama penjelasan itu sederhana dan konsisten ia akan menangkap pesan tersebut. Mama Papa juga diharapkan jangan mudah menyerah. Sikap orangtua yang gampang menuruti kemauan anak malah akan menyuburkan perilaku egosentris si batita. Si kecil pun jadi tidak belajar bahwa untuk mendapatkan sesuatu perlu kerja keras. Kalau ini terus berlangsung, anak tidak terlatih untuk bisa menahan keinginannya. Jadilah kalau keinginannya tak dituruti, ia akan selalu ngambek.

Baca Juga  Ide Permainan Anak di Usia Pra Sekolah

TRIK BIJAK

Nah, untuk menghapi anak yang banyak maunya memang dibutuhkan trik sendiri. Caranya? Tip ini bisa dicoba:

  • Dengar dan jelaskan.

Dengarkan kemauannya dan tanyakan alasan kenapa Maunya Banyak Ya..! ia menginginkan barang itu. Saat anak mau mobil-mobilan karena belum memilikinya, bisa dijelaskan ia akan dibelikan kala berulang tahun atau kala Mama terima honor, jadi tidak saat itu. Penjelasan seperti ini membuat anak tidak merasa ditolak. Ia pun jadi belajar sabar menahan keinginan. Untuk menghadapi si kecil yang “lapar mata” ingin punya suatu barang padahal di rumah sudah ada barang sejenis, tolak halus keinginannya. Bisa juga kita mengarahkan anak untuk membeli barang yang lebih berguna. Ingat, penolakan harus tepat sehingga meski tidak dikabulkan permintaannya, anak tetap merasa dihargai dan disayang.

  • Tentukan tingkat kebutuhan.

Ajari si batita tentang perbedaan kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan adalah suatu barang yang belum dimiliki dan mendesak untuk diadakan. Misal, sepatu si kecil sudah sempit, tentunya harus dicarikan sepatu baru. Sementara keinginan adalah hanya barang/fungsi tambahan. Kalaupun barang itu tidak ada tak akan mengganggu aktivitas atau kualitas hidup kita. Contoh, anak sudah punya banyak boneka, lalu merengek minta dibelikan lagi. Keinginannya tak perlu dikabulkan dengan dijelaskan alasannya. Begitu pula kalau setiap kali ke mal ia minta jajan. Ini bisa diabaikan. Bangunlah kesepakatan kapan anak bisa makan di luar, misal, seminggu sekali. Di luar waktu itu, meski ia merengek, tak perlu dituruti. Tentu, hal ini tidak berlaku bagi si batita saja, namun juga bagi seluruh anggota keluarga. Mama Papa perlu konsisten soal menempatkan kebutuhan di atas keinginan.

  • Redam rengekannya.
Baca Juga  Bagaimana Cara Mengetahui Anak Berbakat Olahraga

Jika si kecil merengek saat ditolak keinginannya, alihkan perhatiannya. Katakan, alasan kita tidak mengabulkan karena harganya terlalu mahal. Mungkin ia belum paham arti “mahal”, tetapi lambat laun ia akan paham kalau ini berarti penolakan. Atau kalau anak sudah memiliki yang sejenis, jelaskan apa adanya. Kemudian ajak ia menjauh dari barang yang diinginkan sambil dialihkan perhatiannya.

  • Buat jadwal berbelanja.

Jadwal berbelanja akan memudahkan Mama mengatur alokasi pengeluaran. Jika terpaksa pergi untuk membeli kebutuhan rumah tangga di luar jadwal, pertimbangkan untuk tidak mengajak anak.

  • Tumbuhkan komitmen berhemat.

Jangan kita melarang si batita untuk beli ini itu, tapi Mama atau Papa sendiri terlihat berbelanja kebutuhan pribadi di luar kebutuhan. Tentu si kecil dengan begitu mendapat contoh yang tidak konsisten. Alhasil, penerapan aturan tidak akan efektif jadinya. Sebaliknya, jika Mama Papa konsisten, si batita akan menyadari bahwa keinginannya tak selalu akan dituruti. Selamat mencoba!

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *